AbouT_FoOd

Karekteristik Pegalengan Ikan

Karekteristik Pegalengan Ikan

Pengalengan atau disebut juga canning berasal dari kata can yang merupakan singkatan dari cannister yang berarti tempat. Pengalengan merupakan proses pengawetan bahan pangan dengan cara mengemas dalam kemasan dan menutupnya secara hermetis (rapat sempurna sehingga tidak dapat dilalui oleh gas, mikroba, udara, uap air, dan kontaminan lainnya), kemudian diikuti dengan pemanasan. Mutu bahan pangan yang diawetkan dengan cara pengalengan akan lebih bagus dibandingkan dengan cara pengawetan lain. Namun dalam hal ini dibutuhkan penanganan yang lebih intensif serta harus ditunjang dengan peralatan yang serba otomatis (Afrianto, 1993)

Menurut Prof. Dr. Ir Made Astawan, MS, Guru Besar Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi IPB dalam harian Kompas (2003) mengatakan bahwa dalam pengawetan ikan, dipilih kaleng sebagai wadah bahan pangan karena kaleng mempunyai keuntungan utama yaitu sebagai berikut:

  1. Kaleng dapat menjaga bahan pangan yang ada di dalamnya. Makanan yang ada di dalam wadah yang tertutup agar terjaga dari kontaminasi oleh mikroba, serangga, ataupun bahan asing lain yang mungkin dapat menyebabkan kebusukan atau penyimpangan penampakan dan cita rasanya.

  2. Kaleng dapat menjaga bahan pangan terhadap perubahan kadar air dalam kaleng yang tidak diinginkan, karena kaleng dapat menjaga tekanan udara baik di dalam kaleng maupun di luar kaleng.

  3. Kaleng juga dapat menjaga bahan pangan terhadap penyerapan oksigen, gas-gas lain, bau-bauan, dan partikel-partikel radioaktif yang terdapat di atmosfer.

Bakteri-bakteri yang berhubungan dengan pengalengan ikan, Clostridium botunilium adalah yang paling berbahaya. Bakteri tersebut dapat menghasilkan racun botulin dan membentuk spora yang tahan panas. Pemanasan selama empat menit pada suhu 120 derajat Celcius atau 10 menit pada suhu 115 derajat Celcius sudah cukup untuk membunuh semua strain C. botulinium (A-C). Sifat C. botulinium yang tahan panas, jika proses pengalengan dilakukan secara tidak benar, bakteri tersebut dapat aktif kembali selama penyimpanan (Astawan, 2003).

Daya tahan atau umur simpan makanan kaleng sangat bervariasi tergantung pada jenis bahan pangan, wadah, proses pengalengan yang dilakukan, dan kondisi tempat penyimpanan. Proses pengolahan dan penyimpanan dilakukan dengan baik, yaitu jauh dari sinar matahari langsung serta jauh dari tempat yang lembab, maka makanan dalam kaleng akan awet sampai jangka waktu dua tahun. Beberapa hal yang menyebabkan awetnya ikan dalam kaleng adalah sebagai berikut:

  1. Ikan yang digunakan telah melewati tahap seleksi, sehingga mutu dan kesegarannya dijamin masih baik

  2. Ikan tersebut telah melalui proses penyiangan, sehingga terhindar dari sumber mikroba kontaminan, yaitu yang terdapat pada isi perut dan insang.

  3. Pemanasan telah cukup untuk membunuh mikroba pembusuk dan penyebab penyakit

  4. Ikan termasuk ke dalam golongan makanan berasam rendah, yaitu mempunyai kisaran pH 5,6 sampai 6,5. Adanya medium pengalengan dapat meningkatkan derajat keasaman (menurunkan pH), sehingga produk dalam kaleng menjadi awet. Pada tingkat di bawah pH 4,6 Clostridium botulinum (bakteri penghasil racun botulin dan spora) tidak dapat tumbuh

  5. Penutupan kaleng dilakukan secara rapat hermetis (rapat sempurna sehingga tidak dapat dilalui oleh gas, mikroba, udara, uap air, dan kontaminan lainnya) sehingga produk dalam kaleng menjadi lebih awet.

Kondisi penyimpanan sangat berpengaruh terhadap mutu ikan dalam kaleng. Suhu yang terlalu tinggi dapat meningkatkan kerusakan cita rasa, warna, tekstur, dan vitamin yang dikandung dalam bahan akibat terjadinya reaksi-reaksi kimia. Oleh karena itu, produk harus disimpan pada kelembapan rendah untuk mencegah timbulnya karat pada bagian luar kaleng dan tumbuhnya jamur. Produk ikan kaleng Harus disimpan jauh dari terpaan cahaya matahari secara langsung (Astawan, 2003).

B. Klasifikasi Ikan Scomber japonicus

PT. MFI menggunakan ikan sebagai bahan baku dalam pembuatan ikan kaleng. Bahan baku yang harus disediakan merupakan bahan baku ikan lokal (ikan yang berasal dari dalam negeri) dan bahan baku ikan impor (ikan yang diimpor dari negara lain). Perusahaan MFI ini menggunakan ikan lokal untuk memproduksi ikan kaleng dengan merk Ranesa, Geisha dan Sesibon, sedangkan ikan impor yang digunakan untuk memproduksi ikan kaleng dengan merk Botan adalah ikan Scomber (Irlandia), Ron herring (Belanda), Jack mackerel (Belanda) dan Japonica (China). Namun, PT. MFI menggunakan ikan Scomber japonicus (kajian peneliti) mulai tahun 2005, karena ikan Scomber japonicus mempunyai kualitas yang cukup baik dan harga yang lebih ekonomis.

Ikan Scomber japonicus termasuk ke dalam family Scombridae. Scombridae adalah family dari mackerels, tunas, bonitos, dan jenis ikan food fishes lainnya. Beberapa jenis ikan family Scombridae diantaranya adalah:

  1. Chub mackerel (other names: Pacific mackerel) Scomber japonicus

  2. Atlantic mackerel Scomber scombrus

  3. Atlantic Spanish mackerel Scomberomorus maculatus

  4. Blue mackerel Scomber australasicus

  5. Broadbarred king mackerel Scomberomorus semifasciatus

  6. Australian spotted mackerel Scomberomorus munroi

  7. Double-lined mackerel Grammatorcynus bilineatus

  8. Happened mackerel Happundreus maculatus

  9. Indian mackerel Rastrelliger kanagurta

  10. Indo-Pacific king mackerel Scomberomorus guttatus

  11. Island mackerel Rastrelliger faughni

  12. Japanese Spanish mackerel Scomberomorus niphonius

  13. King mackerel Scomberomorus cavalla

  14. Spanish mackerel Scomberomorus macula

  15. Streaked Spanish mackerel Scomberomorus lineolatus

  16. Spotted Spanish mackerel Scomberomorus guttus

Ikan Scomber japonicus dapat diklasifikasi pada Tabel 1.

Tabel 1. Klasifikasi Ikan Scomber japonicus

Klasifikasi

Keterangan

Kingdom

Animalis

Phylum

Chordata

Class

Actinopterygji

Order

Perciformes

Family

Scomberidae

Genus

Scomber

Species

S. japonicus

Sumber:”http://en.wikipedia.org/wiki/Chub_mackerel

Ikan Scomber japonicus ini ditemukan oleh Houttuyn pada tahun 1782. Scomber japonicus dikenal dengan nama Pneumatophoros Japonicus atau umumnya dikenal dengan nama Chub mackerel. Scomber japonicus hidup di Samudra Atlantik, Hindia dan Pasifik. Ikan tersebut menyerupai Atlantik mackerel, perbedaannya adalah pada Scomber japonicus mempunyai kandung kemih yang berkembang dengan baik berdempetan dengan kerongkongan, selain itu mata Scomber japonicus lebih besar bila dibandingkan dengan Atlantik mackerel.

Bentuk kepala ikan tersebut mengerucut, mulutnya agak miring dengan mata yang dilengkapi oleh kelopak mata. Ikan tersebut berwarna perak pada bagian sisinya dan satu lurik dengan bisul kecil berwarna kehitam-hitaman pada bagian kepala sampai pada bagian ekor) seperti pada gambar berikut ini (Cheung, K., 2000):

Sumber: wikipedia and www.landbigfish.com,

http://www.dfw.state.or.us/MRP/salmon/FishID/Scomber_japonicus.jpg

Gambar 1. Scomber japonicus

  1. Dasar-dasar Peramalan

Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Setiap kebijakan ekonomi maupun kebijakan perusahaan tidak akan terlepas dari usaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat atau meningkatkan keberhasilan perusahaan untuk mencapai tujuannya pada masa yang akan datang (Assauri 1984).

Menurut Handoko (1991), peramalan yang baik adalah esensial untuk efesiensi operasi-operasi manifacturing dan produk jasa. Manajemen produksi menggunakan hasil-hasil peramalan dalam pembuatan keputusan-keputusan yang menyangkut pemilihan proses, perencanaan kapasitas, dan layout fasilitas, serta untuk berbagai keputusan yang bersifat terus- menerus berkenaan dengan perencanaan, schedulling dan persediaan.

Proses peramalan harus diperhatikan, karena peran peramalan sangat penting dalam pengambilan keputusan, sehingga hasil dari peramalan tersebut dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Menurut Arsyad (2001), ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu:

  1. Pengumpulan data yang relevan berupa informasi supaya dapat digunakan dalam proses peramalan sehingga akan menghasilkan peramalan yang akurat. Menurut Supranto (2000), fungsi data adalah untuk mengetahui atau memperoleh gambaran tentang sesuatu keadaan atau persoalan dan untuk membuat keputusan atau memecahkan persoalan.

  2. Pemilihan teknik atau metode peramalan dengan memanfaatkan informasi data yang diperoleh seoptimal mungkin.

Pada umumnya peramalan dapat dibedakan dari beberapa segi, tergantung dari cara melihatnya. Apabila dilihat dari jangka waktu ramalan yang disusun, maka peramalan dapat dibedakan atas dua macam, yaitu:

  1. Peramalan jangka panjang, yaitu peramalan yang dilakukan untuk penyusunan hasil ramalan yang jangka waktunya lebih dari satu setengah tahun atau tiga semester.

  2. Peramalan jangka pendek, yaitu peramalan yang dilakukan untuk penyusunan hasil ramalan yang jangka waktunya kurang dari satu setengah tahun atau tiga semester.

Berdasarkan sifat ramalan yang telah disusun, maka peramalan dapat dibedakan atas dua macam, yaitu:

  1. Peramalan kualitatif, yaitu peramalan yang didasarkan atas data kualitatif masa lalu. Hasil peramalan yang dibuat sangat tergantung pada orang yang menyusunnya, karena hasil ramalan tersebut ditentukan berdasarkan pemikiran yang dibuat bersifat intuisi, judgement atau pendapat dan pengetahuan serta pengalaman dari penyusunnya.

  2. Peramalan kuantitatif, yaitu peramalan yang didasarkan atas data kuantitatif masa lalu. Hasil peramalan yang dibuat sangat tergantung pada metode yang digunakan dalam peramalan tersebut. Metode yang baik adalah metode yang memberikan nilai-nilai dengan penyimpangan yang relatif kecil. Peramalan kuantitatif hanya dapat digunakan apabila tiga kondisi, yaitu adanya informasi tentang keadaan yang lain, informasi tersebut dapat dikuantifikasikan dalam bentuk data, dapat diasumsikan bahwa pola yang lalu akan berkelanjutan pada masa yang akan datang.

    1. Metode Peramalan

Peramalan merupakan dasar bagi kemampuan perencanaan, produksi dan persediaan, pemakaian tenaga kerja, penjualan dan pangsa pasar, pembiayaan dan penganggaran, riset dan pengembangan, serta strategi manajemen puncak. Ramalan dibutuhkan untuk memberikan informasi kepada pimpinan sebagai dasar untuk membuat keputusan dalam berbagai kegiatan seperti penjualan, permintaan, persediaan, keuangan dan sebagainya.

Menurut Arsyad (2001), metode peramalan dapat dikelompokkan sebagai berikut:

  1. Teknik kuantitatif, yaitu memanfaatkan model matematis yang memerlukan data bagi variabel bebas untuk peramalan

    1. Metodetime series“ (runtut waktu), yaitu memanfaatkan data historis (apa yang terjadi di masa yang lalu, akan terjadi lagi di masa yang akan datang). Macam metode „time series“ adalah sebagai berikut:

  1. Rata-rata bergerak (moving average)

  2. Penghalusan eksponensial (exponential smoothing)

  3. Metode Box-Jenkins

  4. Metode Dekomposisi:Trend, Siklis, Musiman, Hal tak menentu

  5. Proyeksi trend

    1. Metode Kausal (sebab akibat), yaitu mempertimbangkan faktor-faktor yang berhubungan erat dengan faktor yang diramal. Macam metode kausal adalah sebagai berikut:

  1. Analisa Regresi

  2. Model Ekonometrika

  3. Survey Antisipasi

  4. Metode masukan-Keluaran

  5. Metode Indikator

  6. Analisa Siklis Hidup

  7. Simulasi

  1. Teknik Kualitatif, yaitu berdasarkan „kata hati nurani“ dari yang bersifat sederhana sampai ilmiah.

    1. Metode Dolphi

    2. Kurva pertumbuhan

    3. Pembuatan Skenario

    4. Penelitian Pasar/ Riset Pasar

    5. Kelompok-kelompok Fokus

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Exponential Smoothing. Metode Exponential Smoothing adalah suatu tipe teknik peramalan rata-rata bergerak yang melakukan penimbangan terhadap data masa lalu dengan cara eksponensial sehingga data paling akhir mempunyai bobot lebih besar dalam rata-rata bergerak (Handoko, 1984).

Menurut Makridakis (1999), smoothing atau pemulusan mempunyai kegunaan untuk mengurangi fluktuasi atau naik turunnya time series. Oleh karena itu, hasil perhitungan peramalan akan membentuk kurva yang hampir mulus atau smooth. Klasifikasi metode pemulusan eksponensial sebagai berikut:

Pemulusan Eksponensial

P.E. Tunggal Parameter (Parameter Adaptif ARRES)

P.E. Ganda Satu Parameter Metode Linier dari BROWN);

Dua Parameter (Metode HOLT)

P.E. Triple Satu Parameter Metode Kuadratik dari BROWN);

Dua Parameter (Metode HOLT)

PE. Klasifikasi Pegels

Gambar 2. Klasifikasi Metode Pemulusan Eksponensial

Pendekatan dasar dari metode ini adalah memasukkan tingkat pemulusan tambahan (Smoothing Triple) dan memberlakukan persamaan kuadratis. Metode Triple Exponential Smoothing merupakan gabungan dari dua kelompok Exponential Smoothing, yaitu tunggal dan ganda. Kelebihan metode Triple Exponential Smoothing adalah:

  1. Bentuk kurva dapat memberikan ketepatan perkiraan yang tinggi dibandingkan dengan garis lurus (linier). Bentuk kurva ini berarti menggambarkan adanya pertimbangan (penambahan atau pengurangan) yang tidak selalu sama pada setiap tahun. Peramalan pada bentuk garis lurus terdapat perubahan yang selalu sama untuk setiap tahun yang ditunjukkan oleh besarnya slope atau arah garis b (Gitosudarmo, 1984).

  2. Metode ini mengurangi fluktuasi yang berlebihan pada data times series seperti yang sering terjadi pada produk pertanian, sehingga metode ini disebut sebagai metode pemulusan atau smooth (Assauri,1984)

  3. Metode ini mempunyai faktor smoothing konstan dengan simbol α yang berfungsi sebagai penyesuai terhadap fluktuasi data time series (Gitosudarmo, 1984)

    1. Peramalan Produksi

Menurut Reksohadiprojo (1980), peramalan produksi digunakan untuk meramalkan volume produksi yang akan datang agar perusahaan dapat memperkirakan kebutuhan bahan baku yang harus disediakan perusahaan untuk memenuhi volume ramalan produksi tersebut. Hasil dari peramalan produksi dapat digunakan untuk melihat apakah di masa yang akan datang terjadi under production atau akan terjadi over production.

Menurut Reksohadiprojo (1980), ramalan produksi pada dasarnya mempunyai tujuan sebagai berikut:

  1. Dasar pembuatan budget (anggaran), membuat anggaran operasional produksi bahan mentah, pembelian dan lain-lain ssehingga mempunyai pedoman kerja.

  2. Meminimumkan persediaan barang jadi, mengusahakan agar barang jadi serendah mungkin tetapi tidak mengganggu pemenuhan pesanan-pesanan

  3. Memanfaatkan fasilitas perusahaan sebaik-baknya untuk memproduksi produk dalam jumlah yang menguntungkan

  4. Meminimumkan investasi modal pada peralatan-peralatan, mengusahakan agar investasi pada peralatan seminimal mungkin tetapi dapat dipergunakan untuk mengajukan pesanan.

  5. Menstabilkan kesempatan kerja sehingga tidak terdapat pertentangan antara manajemen dan karyawan.

Pada dasarnya peramalan produksi dipengaruhi oleh faktor-faktor intern dan ekstern, yaitu:

  1. Faktor Intern

    1. Fasilitas produksi

Fasilitas produksi berkaitan dengan peralatan yang digunakan perusahaan untuk melaksanakan proses produksi. Pada umumnya fasilitas produksi jarang mengalami perubahan, yang perlu diperhatikan adalah jika lat-alat tersebut mengalami kerusakan sehingga berpengaruh terhadap produk yang dihasilkan.

    1. Lama waktu kegiatan

Lama waktu kegiatan meliputi waktu untuk memperoleh bahan-bahan, waktu ini berubah-ubah setiap peristiwa. Oleh karena itu, akan mempengaruhi persediaan dan produksi.

    1. Besarnya kerusakan yang ada

Sifat produk pertanian adalah mudah rusak. Oleh karena itu, perusahaan perlu melakukan penanganan khusus dalam menyimpan bahan baku tersebut.

  1. Faktor Ekstern

  1. Keadaan bisnis

Keadaan bisnis yang berpengaruh terhadap peramalan produksi adalah harga produk dan kurs valuta asing, terlebih produk-produk yang mendatangkan bahan baku dari luar dan berorientasi ekspor.

  1. Keadaan lainnya

Keadaan yang menyangkut pertumbuahn penduduk, fluktuasi musim, produk yang dijual, persaingan, saluran distribusi dan campur tangan pemerintah (Reksohadiprojo, 1980).

    1. Manajemen Persediaan

Salah satu kegiatan yang dilakukan setiap perusahaan adalah proses produksi. Proses produksi erat kaitannya dengan kualitas dan kuantitas suatu produk karena kegiatan produksi adalah menciptakan kegunaan atau utility seperti kegunaan bentuk (form utility), kegunaan tempat (place utility), kegunaan waktu (time utility) bahkan sebenarnya dalam proses penciptaan kegunaan milik (pocession utility) pun dapat diartikan sebagai bidang kegiatan produksi (Gitosudarmo, 1984).

Proses produksi tidak dapat berjalan dengan baik apabila tidak adanya pengendalian persediaan. Hal tersebut disebabkan karena pengendalian persediaan merupakan langkah awal dalam memulai proses produksi. Menurut Handoko, (1984), pengendalian persediaan merupakan fungsi manajerial yang sangat penting, karena persediaan fisik banyak melibatkan investasi dalam pos aktiva lancar. Bila perusahaan menanamkan terlalu banyak dananya dalam persediaan, menyebabkan biaya penyimpanan yang berlebihan, dan mungkin mempunyai opportunity cost (dana dapat ditanamkan dalam investasi yang lebih menguntungkan). Demikian pula, bila perusahaan tidak mempunyai persediaan yang cukup, dapat mengakibatkan biaya-biaya dari terjadinya kekurangan bahan.

Istilah persediaan adalah segala sesuatu yang disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan. Sumber daya mungkin internal dan eksternal yang meliputi persediaan bahan mentah atau baku, barang dalam proses, barang jadi atau produk akhir, bahan-bahan pembantu atau pelengkap, dan komponen-komponen lain yang menjadi bagian keluaran produk perusahaan. Jenis persediaan ini sering disebut dengan istilah persediaan keluaran produk (produst output), dimana hampir semua orang mengidentifikasikan secara cepat sebagai persediaan.

Sistem persediaan adalah serangkaian kebijaksanaan dan pengendalian yang memonitor tingkat persediaan dana menentukan tingkat persediaan yang harus dijaga, kapan persediaan harus dipenuhi, dan berapa besar pesanan yang harus dilakukan. Sistem ini bertujuan untuk menetapkan dan menjamin tersedianya sumber daya yang tapat, dalam kuantitas yang tepat dan pada waktu yang tepat. Dengan kata lain, sistem dan model persediaan bertujuan untuk meminimumkan biaya total dimana menurut jenisnya, persediaan dapat dibedakan atas:

  1. Persediaan bahan baku atau mentah (raw material), yaitu persediaan barang-barang berwujud seperti ikan, kayu, baja, dan komponen-komponen lainnya yang digunakan dalam proses produksi.

  2. Persediaan komponen-komponen rakitan (purchased parts/ components), yaitu persediaan barang-barang yang terdiri dari komponen-komponen yang diperoleh dari perusahaan lain, dimana secara langsung dapat dirakit menjadi suatu prduk.

  3. Persediaan bahan pembantu atau penolong (suplies), yaitu persediaan barang-barang yang diperlukan dalam proses produksi, tetapi tidak merupakan bagian atau komponen barang jadi.

  4. Persediaan dalam proses (work in process), yaitu persediaan barang-barang yang merupakan keluaran dari tiap-tiap bagian dalam proses produksi atau yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu diproses leboh lanjut menjadi barang jadi.

  5. Persediaan barang jadi (finished goods), yaitu persediaan barang-barang yang telah seelsai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual atau dikirim kepada pelanggan (Handoko, 1984)

Setiap pengambilan keputusan yang berhubungan dengan persediaan tentunya menyangkut biaya-biaya variabel. Menurut Yamit (1996), terdapat lima kategori biaya yang dikaitkan dengan keputusan persediaan, yaitu:

  1. Biaya pemesanan (ordering cost), yaitu biaya yang dikaitkan dengan usaha untuk mendapatkan bahan atau barang dari luar. Biaya tersebut dapat berupa: biaya penulisan pemesanan, biaya proses pemesanan, biaya material atau perangko, biaya faktur, biaya pengetesan, biaya pengawasan, dan biaya transportasi. Sifat biaya pemesanan ini adalah semakin besar frekuensi pembelian semakin besar biaya pemesanan.

  2. Biaya penyimpanan (carrying cost), yaitu biaya-biaya yang berhubungan langsung dengan kuantitas persediaan seperti: biaya fasilitas-fasilitas penyimpanan(penerangan, pemanas atau pendingin), biaya modal, biaya keusangan, biaya perhitungan fisik dan konsiliasi laporan, biaya asuransi persediaan, biaya pajak persediaan, biaya pencurian, pengrusakan, atau perampokan, biaya penanganan persediaan, dan sebagainya. Biaya penyimpanan per periode akan semakin besar apabila kuantitas bahan yang dipesan semakin banyak, atau rata-rata persediaan semakin tinggi.

  3. Biaya kekurangan persediaan (stockout cost), yaitu biaya yang terjadi apabila persediaan tidak tersedia di gudang ketika dibutuhkan untuk produksi atau ketika langganan memintanya seperti: biaya penjualan atau permintaan yang hilang, biaya yang dikaitkan dengan proses pemesanan kembali (biaya ekspedisi khusus, penanganan khusus, biaya penjadwalan kembali produksi, biaya penundaan, dan biaya bahan pengganti)

  4. Biaya yang dikaitkan dengan kapasitas, yaitu biaya yang terjadi karena perubahan dalam kapasitas produksi karena perusahaan berusaha untuk memenuhi fluktuasi dalam permintaan. Biaya yang dikaitkan dengan kapasitas dapat berupa: biaya kerja lembur untuk meningkatkan kapasitas, latihan tenaga kerja baru, dan biaya perputaran tenaga kerja.

  5. Biaya bahan atau barang, yaitu harga yang harus dibayar atas item yang dibeli.

G. Model Economic Order Quantity (EOQ)

Menurut Handoko (1984), metode manajemen persediaan yang paling terkenal adalah model-model Economic Order Quantity (EOQ) atau Economic Lot Size (ELS). Metode ini dapat digunakan baik untuk barang-barang yang dibeli maupun yang diproduksi sendiri. Model EOQ adalah nama yang biasa digunakan untuk barang-barang yang dibeli, sedangkan ELS digunakan untuk barang-barang yang diproduksi secara internal. Model Economic Order Quantity (EOQ) adalah jumlah kuantitas barang yang dapat diperoleh dengan biaya yang minimal, atau sering disebut sebagai jumlah pembelian yang optimal.

Menurut Yamit (1996), konsep EOQ digunakan untuk menjawab pertanyaan “berapa jumlah yang harus dipesan”. EOQ memperhitungkan biaya variabel dari penyediaan persediaan (inventory) dimana biaya tersebut dapat digolongkan menjadi procurement cost atau set-up cost dan storage atau carrying cost.

Procurement cost (biaya yang berubah sesuai dengan frekuensi pesanan) terdiri atas biaya selama proses persiapan (persiapan yang diperlukan untuk pesanan dan penentuan besarnya kuantitas yang akan dipesan), biaya pengiriman pesanan, biaya penerimaan barang yang dipesan (pembongkaran dan pemasukan barang ke gudang, pemeriksaan material yang diterima, mempersiapkan laporan penerimaan, dan mencatat ke dalam material record card), dan biaya processing pembayaran (auditing dan pembandingan antara laporan penerimaan dan pesanan yang asli, persiapan pembuatan cheque untuk pembayaran, dan pengiriman cheque dan kemudian auditingnya). Storage atau carrying cost (biaya yang berubah sesuai dengan besarnya average inventory) terdiri atas biaya penggunaan atau sewa gedung, biaya pemeliharaan material, biaya untuk menghitung barang yang dibeli, biaya asuransi, biaya modal, dan biaya pajak dari persediaan yang ada dalam gudang.

Menurut Assauri (1984), untuk menekan biaya persediaan bahan baku serendah mungkin dapat dilakukan dengan menggunakan analisis kuantitas pemesanan yang ekonomis atau Economic Order Quantity (EOQ), rumus kuantitas pesanan ekonomis yaitu :

Keterangan:

EOQ : Kuantitas bahan baku ekonomis (Economic Order Quantity)

A : Jumlah kebutuhan bahan baku dalam ton (Annual Required Unit)

P : Biaya pemesanan setiap kali pesan (Cost Order)

R : Harga pembelian pada setiap unit yang dibayar

C : Biaya penyimpanan di gudang dan dinyatakan dalam persentase dari nilai raa-rata persediaan dalam gudang

Dalam menentukan besarnya pembelian, analisis ini hanya memperhatikan variabel dari penyediaan bahan baku, di mana biaya variabel ini sifat peubahnya searah dengan jumlah yang dipesan atau berlawanan. Kenyataanya sering terdapat ketidakpastian dalam pola tingkat permintaan sehingga analisis yang menggunakan EOQ tidak dapat dilaksanakan. CV digunakan untuk mengetahui apakah dapat dipergunakan metode EOQ basic atau tidak. Menurut Paterson dan Silver (1979), Coeffcient of variability ini dinyatakan dengan CV yang dihitung dengan rumus :

Keterangan ;

CV = Koefisien Variabilitas (Coefficientn of Variability).

N = Jumlah periode permintaan.

D j = Jumlah permintaan dari periode j, j bergerak dari 1, 2, 3,…..N.

Nilai CV ditetapkan sebesar + 0,25 sebagai nilai batas.

Apabila nila CV > 0,25 maka dalam menentukan pesanan yang ekonomis menggunakan metode Silver Meal Heiristic, yaitu :

Keterangan :

TRUCT = Jumlah bahan baku optimal (Total Relevant Cost Per Unit Time).

A = Jumlah kebutuhan bahan baku.

T = Jumlah periode permintaan bahan baku.

Menurut Yamit (1996), untuk mengetahui total biaya pengadaan bahan baku yang ekonomis, perlu dihitung Total Inventory Cost dengan rumus sebagai berikut (Yamit, 1996):

Keterangan :

TIC = biaya pengadaan bahan baku total (Total Inventory Cost)

A = Jumlah bahan baku dalam unit selama periode tertentu.

N = Jumlah pembelian bahan baku yang ekonomis

P = Biaya pemesanan setiap kali pesan.

R = Harga barang per unit.

C = Biaya pemesanan yang dinyatakan dalam persentase dari nilai persediaan rata-rata rupiah

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Banana Smoothie Theme. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: